Kamis, 26 Juni 2014

Menikah Itu Luar Biasa...^_^

Beneran deh, gak bohong.
Menikah itu beneran bahagia. Punya keluarga baru itu bahagia sekali. Pertama Allah menganugrahkan seorang suami (sweet bgt)  kepada ku. Dan sekarang seorang anak (lbih sweet dr Abi..:p). SubhanAllah...Rasanya masih excited  bener...:)
30 November 2013, putra pertama kami lahir. Masih terngiang dan  terasa banget perjuangan melahirkan dan tentu saja suami tercinta selalu menemani. Love you my husband...., Idu Papinda Jaya...:). Putra kami , Karim Abudzar Papinda, itulah namanya setelah sekian lama disiapkan dan persiapannya pun melewati diskusi yang alot hingga menuju kata sepakat untuk nama buah hati kami yang pertama....(yang pertama???Ya InsyaAllah akan ada adik-adik Karim....^_^)
Ø  Menikah itu bahagia kawan.... Ternyata keinginanku untuk menikah muda patut disyukuri. Tak tahulah sejak kapan tepatnya keinginan itu menyeruak. Tapi yang kuingat sejak terlalu sering membaca buku tentang menikah (dalam Islam) saat SMA, ditambah lihat ikhwan dan akhwat yang udah halal, kayaknya eS-We-Te Be-Ge-Te (sweeeeeet bangeeeettt.....hehehe)
28 Februari 2013... Hmmmm...menjadi momen terpenting dalam hidup kami...#cie...ciiiee...
Ya Eyalah....secara hari itu rasanya deg-deg an bner.... Pipi memerah, jantung berdegup kencang, keringat membanjir, tangan jadi dingin....(ini ciri-ciri apa ya?)... Pokonya gitu deh... Nanti yang akan menikah insyaAllah merasakan deh....
Dan tahukah,,,,ciri-ciri akan melahirkan mirip-mirip gitu.... Pipi memerah, jantung berdegup kencang, keringat membanjir, tangan jadi dingin......(expression of  lebay aja)...hehehe.
Ø  Menikah itu indah kawan... Walau usia pernikahan kami baru seumur jagung, (Hmmm...gak deh...udh lebih dari seumur jagung...Ribet banget ya, blg aja udah 1 tahunan) banyak pelajaran hidup selama kami menikah. Yang paling jelas, kita dituntut untuk bijaksana dalam menyikapi keadaan apapun. Ntah itu suka atau duka.
Ø  Menikah itu memperluas rezeki kawan.... (Gak percaya???? Rasain aja sendiri)....^_^v
Coba deh simak, Allah berfirman:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda bingung, bimbang untuk menikah. Bahkan yang telah bekerja, yang sudah mapan pun masih ragu untuk menikah. Dalam pikiran mereka (mungkin ya?, tapi kayaknya iya deh),” Apakah cukup gaji segini bisa membiayai sebuah keluarga?”.
Firman Allah di atas adalah jawaban yang kuat untuk pertanyaan tersebut. Masih ragu???
Yup, kita hanya bisa berusaha.... Allah yang akan memampukan dengan karuniaNYA...
Berusahalah, Allah yang akan mencukupkan.. #pengalaman






Ø  Menikah itu ibadah....
Ini adalah tujuan yang hakiki dari menikah.. Niatkanlah menikah itu untuk ibadah kepada Allah...
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Bayangkan, separuh agama???

Ah sudahlah...hanya ingin bercerita saja bukan bermaksud mengompori...Tapi yang tekompori, hmmm Alhamdulillah..... Pekerjaan paling mulia untuk wanita itu menjadi seorang istri #quotesendiri
Menikah itu bahagia, menikah itu indah, menikah itu ibadah....
Menikah itu anti galau....

Abi,,,,semoga keluarga kecil (insyaAllah akan jadi keluarga besar nanti)  kita selalu di beri keberkahan oleh Allah...aamiin... Dan keluarga kita dipersatukan di jannahNYA....
Allahumma aamiin.....^_^
#LoveUpakeSoMuch




Kamis, 28 November 2013

Alhamdulillah....^_^

“Gajah-gajah kowe tak kandani jah,
Mripat koyok laron, siung loro, kuping gede..
Katik nganggo tlaleng
Buntut cilek, tansah kopat kapit.
Sikil koyok blumbung, mung mlakumu
Megal megol....”

Masih terngiang-ngiang lagu ini dinyanyikan oleh beliau... Hmmm... yaaaa... Aku yang waktu itu masih kanak-kanak membuat aku hanya tertawa saja mendengar lagu ini...Karena beliau menyanyikannya dengan nada yang lucu.. Itulah yang membuatku selalu tersenyum dan tertawa mendengar lagu ini. Padahal artinya pun aku tak tahu... Yang aku tahu hanya kata gajah yang megal-megol.... Hahaha... Hanya itu, yang membuatku membayangkan gajah yang badannya besar jalannya megal-megol. Tentu lucu untukku yang masih kanak-kanak... Beliau sering menyanyikannya... Dan ketika adikku kanak-kanak juga... Lagu yang lucu.... Tapi aku tak mengerti.... Yang kutahu hanya gajah yang badannya besar jalannya megal megol... Ya... Beliau yang memang asli Jawa dan memilih menetap di tanah Bangka karena beristrikan wanita cantik asli Bangka. Ya.... Ayah dan Emak...:)
Dan tentunya kami ketiga anaknya sukses mendalami bahasa Bangka dari bahasa Jawa... Ya... Itu pula yang menjadi alasan mengapa aku tak mengerti arti lagu itu... Tapi, lagi-lagi yang aku tahu hanya gajah yang badannya besar yang jalannya megal-megol...
Alhamdulillah ya Allah... masih tersimpan kenangan itu walau kini Beliau telah tiada... Ya Ayah.... Kenangan itu masih tersimpan rapi... Kau selalu menyanyikannya dengan caramu yang khas... Untuk membuat anak-anakmu tersenyum riang...
Ya ayah..... Kenangan itu masih tersimpan rapi...
Satu lagi hal yang patut disyukuri... Bahwa Allah masih menganugerahkan ingatan yang segar untuk masa kecilku.... Alhamdulillah ya Allah... Syukron ya Allah...
Walau kini Ayah telah kembali padaMU...
Semoga Ayah diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah...aamiin....



                                                                                                                      Sungailiat, 29 November 2013

Senin, 28 Oktober 2013

Sayang Ummi dan Abi....^_^

31 Week...


Untuk Ummi dan Abi...
Ummi... Aku 31 minggu 4 hari ni... Udah tambah gede aja... Makin gak sabar deh pengen ketemu Abi, Ummi, Mbah Uti, Nenek, Atok, Acu, Wo, Ak Dea, Ak Ajeng, abg Aqsa semuanya deh....
Ummi...Ummi...Ummi...
Aku denger lho kalau ummi lagi ngobrol sama Abi membicarakan aku... Hmmmm.... Aku juga denger pagi-pagi ummi dan abi selalu menyapaku, mengucapkan salam... Aku sayang Ummi dan Abi...
Ummi... Maafin aku ya, mungkin perut ummi kesakitan saat aku gerak-gerak... Soalnya aku seneng banget main-main, gerak-gerak di perut ummi. Aku kan baby yang aktif...hehehe...(aku narsis ya Ummi)... Tapi ruang gerakku makin sempit nih Ummi... Apa aku yang tambah gede ya???hihihi...
Ummi, pokoknya pengen segera ketemu Abi dan ummi.... Doain ya ummi sama Abi, semoga aku keluarnya lancar dan semoga dimudahkan segala urusannya oleh Allah SWT... aamiin ya Allah....
Sayang Ummi dan Abi...^_^




                                                                                                  Sungailiat, 11 Oktober 2013

Senin, 29 April 2013

Dengan Menikah...


Dengan menikah...
Sesungguhnya kita telah menggenapkan setengah dien...

Dengan menikah...
Sesungguhnya jalan menuju syurga semakin dipermudah...

Dengan menikah...
Sesungguhnya Allah akan melimpahkan rezekiNYA...

Dengan menikah...
Sesungguhnya kita mencintai seseorang yang halal...

Dengan menikah...
Sesungguhnya silahturahim ditegakkan karena menyatunya dua keluarga besar...

Dengan menikah...
Sesungguhnya ketenangan cinta dan kasih sayang akan mudah diraih...

Karena menikah adalah perintah Allah...
Karena menikah adalah sunnah Rasulullah...
Karena menikah adalah ibadah...
Karena menikah itu bahagia...
So, Jangan takut untuk menikah...

Allah berfirman:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Terj. QS. An Nur : 32)


^_^


#Mohon maaf jika ada kesalahan

Selasa, 23 April 2013

Hanya Sebuah Renungan


Kadang sibuk menilai orang lain...
Sampai lupa untuk menilai diri sendiri...
Bagaimana mau naik tingkat, sedang diri sendiri pun tak pernah dinilai...
Ya... Terlalu sibuk mencari robek baju orang, robek baju sendiri tak disadari...
Bagaimana mau memperbaiki baju yang robek, sedang tak menyadari bajunya sendiri robek...
Terus saja mencari kesalahan orang, kesalahan diri sendiri tak pernah dikoreksi...
Ingin orang lain berubah ke arah yang lebih baik, sedang diri sendiri tak pernah mencontohkan perilaku yang baik...
#Renungan

Senin, 22 April 2013

Jilbab sama dengan Wajib....^_^


Assalamu’alaikum...

Ketika kita ingin dihargai.
Mulailah dengan menghargai diri sendiri.
Bagaimana orang akan menghargai kita?
Jika kita sendiri pun tak menghargai diri sendiri.

Membahas sedikit tentang kewajiban mengenakan jilbab.
Perintah menggunakan jilbab telah ada dalam Al Qur’an dalam surah An-Nur ayat 31 dan surah Al Ahzab ayat 59.
Di awal surah An-Nur  telah ditegaskan bahwa Surah An-Nur adalah salah satu surat yang diturunkan yang di dalamnya terdapat kewajiban-kewajiban yang WAJIB dilakukan.
Allah berfirman :

“(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.”(Q.S. An-Nur:01) 

Salah satunya kewajiban mengenakan jilbab,  Allah berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, ataubudak-budak yang nereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidakmempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nur:31)

Di awal surat Al Ahzab pun telah ditegaskan,
Allah berfirman :

“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertakwalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”(Q.S. Al Ahzab : 1-3)

Dan kewajiban mengenakan jilbab tertuang dalam surah Al Ahzab ayat 59, Allah berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Ahzab :59)

  
Jadi kesimpulannya, pada awal surah An- Nur dan surah Al Ahzab telah ditegaskan bahwa, didalam surat tersebut isinya banyak tentang perintah-perintah yang wajib dilakukan. Wajib, kudu, mesti, harus, dan lain sebagainya. Dan jika tidak dilaksanakan, maka akan menambah catatan dosa kita.
Dari duduk di Sekolah Dasar kita telah mempelajari pengertian dari wajib, sunnah, makruh, mubah,dan haram. Nah pengertian wajib itu sendiri di dalam Islam adalah...
Wajib : Jika melaksanakan mendapat pahala dan jika meninggalkan mendapat dosa.
Ketika seorang wanita yang telah baligh ditanyakan mengapa gak pake jilbab, banyak sekali alasannya, belum siap lah, jilbabin hati dulu, nanti sulit dapat pekerjaan, nanti jadi cupu, gak keren lagi. Dan alasan-alasan lain untuk membenarkan tidak mengenakan jilbab. Saat kita telah menggunakan jilbab, setidaknya kita telah mengurangi 1 dosa, insyaAllah. Ketika ada perempuan yang belum berjilbab terus mengatakan seperti ini,
“Ih, kamu tuh, percuma aja pakai jilbab tapi masih suka ngatain orang”.
Jika mengalami seperti ini, jangan marah. Ini menjadi pelajaran buat kita. Jangan lantas dibilang seperti ini, besoknya udah gak pake jilbab lagi. Setidaknya kita lebih menang 1 point dari wanita yang mengatakan tadi karena dia belum berjilbab. Untuk selanjutnya, belajar memperbaiki diri. Bukankah, terus dan terus memperbaiki diri itu harus tetap dilakukan tanpa alasan apapun kecuali sudah menghembuskan nafas terakhir???
So, tetap semangat!!!
Saya pun dulu begitu. Pertama kali menggunakan jilbab pun, saya belum tahu kalau jilbab itu wajib. Tapi karena modal nekat. Ya nekat saja. Bismillah. Dan lama-lama ketika sudah mengetahui bahwa jilbab itu wajib, nah... harus meluruskan niat. Yupsss, semua ada prosesnya. Gak langsung jleb!! Jd Power Ranger.........hehehe
Hidayah itu harus dijemput. Bukan ditunggu saja tanpa melakukan apa-apa.
Dan ketika hidayah itu datang, jangan menutup hati atau pura-pura tidak tahu. Bukakanlah pintu selebar-lebarnya, atau perlu jemput jika ia baru mencapai gerbang.
Intinya bukan masalah Bisa atau Tidak Bisa. Tapi Mau atau Tidak Mau.
Teman, untuk awalnya mengenakan jilbab memang gerah. Tapi gerah mana?
Panas di dunia? Atau Panas Api neraka?
Lama-lama juga akan terbiasa. Kan ada yang bilang, Ala Bisa karena Biasa.

Semoga kita selalu dan selalu memperbaiki diri demi mencapai Ridho Illahi...
Aamiin...^_^

Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan ada point yang salah dalam penyampaian ini. Karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Allah, dan kesalahan datang dari diri saya sendiri...

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Keep Smile....:)

 

Kamis, 07 Maret 2013

Jilbab, I Love You


Ini cerita singkatku bagaimana aku akhirnya mengenakan jilbab...       
            Jilbab. Suatu hal yang sangat mustahil bagiku saat itu untukku yang masih SMP. Bagaimana tidak? Keseharianku yang selalu mengenakan pakaian ketat. Menari dari tradisonal hingga modern dance dan modelling adalah kegiatan yang tak bisa lepas dariku saat itu. Hingga kupikir, inilah duniaku.
            Hingga saat menjelang kelulusan SMP, namaku tertera dikoran berada dideretan penerima beasiswa dari PT Timah Tbk di SMA 1 Pemali  yang mengharuskan penerimanya tinggal di asrama setelah melewati serangkaian tes. Aku dengan segala kegiatan kesenianku rasanya tidak mudah untuk memilih ini. Jika aku terima, aku harus merelakan kegiatanku. Jika tidak ya tidak apa-apa. Aku mengikuti inipun berawal dari ikut-ikutan teman.
            Allah Maha Pemberi Petunjuk. Aku yang awalnya memilih tidak, menjadi memilih iya. Ibuku juga berat sekali melepaskan aku untuk tinggal di asrama. Allah Maha membolak-balikkan hati. Bismillah. Semoga ini yang terbaik.
            Benar saja. Asrama inilah yang membuatku mempunyai keinginan yang kuat untuk berjilbab. Sekalipun niat awalku belum benar. Berawal dari malu. Saat itu kami yang dinyatakan lulus harus mendaftar ulang ke asrama. Aku yang rok SMP-nya agak ketat, langsung saja ditegur oleh panitia PSB (Penerimaan Siswa Baru) yang kutahu kini dia adalah pengawas asrama. “Nanti ganti ya roknya”. Mendengar itu wajahku memerah, malu sekali rasanya ketika ditegur seperti itu. Langsung saja ketika pulang kerumah, aku langsung membongkar lemariku mencari rok yang lebih baik dari rok yang kugunakan sebelumnya. Pengawas tadi bilang juga bahwa hampir 70% siswa perempuan yang muslim di sini mengenakan jilbab. Tuk. Sepertinya ada yang mengetuk pintu hatiku. Tapi ah sudahlah. Beberapa minggu ketika masuk sekolah, kami memang masih menggunakan pakaian SMP sembari menunggu baju seragam SMA dari PT Timah. Saat MOS pun kami diharuskan menggunakan seragam SMP.
            Sepulang dari pendaftaran ulang, kata-kata panitia PSB itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku akan masuk asrama. Pulangnya 2 minggu sekali. Tempatnya juga sepi. Kurang bebas juga untuk keluar. Gimana ya kalau Aku mengenakan jilbab??? Pakai jilbab aja deh. Lagipula, di asrama ini gak mungkin lagi aku nari-nari, nyanyi-nyanyi, ikut model. Ya udah deh. Jilbabin aja. Batinku.
            Keinginan itu pun aku utarakan ke orangtuaku. Ayah sih tidak banyak komentar. Tapi ibu kurang mengizinkan. Katanya Aku masih kecil. Nanti jilbabnya dibuka lagi. Dan lain-lain yang membuatku ragu. Tapi tak kusangka, ketika Aku sudah beberapa hari di asrama, ibuku membeliku 3 buah jilbab. Dua jilbab berwarna putih dan 1 berwarna coklat. Kata ibu, untuk digunakan hari Jumat. Ya, saat itu di sekolah kami setiap hari Jumat diharuskan menggunakan busana muslim.
            Masih saja ragu itu menyelimuti hatiku. Hingga saat Aku harus memilih, pilih seragam sekolah lengan panjang atau lengan pendek. Bingung sekali. Aku rasanya belum siap mengenakan jilbab. Tapi..... Ah...Nekat saja.
            01 Agustus 2006.
            Baju seragam sudah ditangan. Lengan panjang. Artinya Aku harus mengenakan jilbab. Minggu depan saja. Pikirku. Saat itu ada 5 temanku yang berniat mengenakan jilbab juga. Dan kami pun pernah berencana untuk mengenakan pada hari yang sama. Menjelang waktu makan malam pada tanggal 01 Agustus 2006, Aku dikejutkan dengan salah seorang temanku yang mengenakan baju kemeja panjang, celana panjang, dan juga jilbab. Jilbab??? Serius malam ini. Aku belum siap.Teman-temanku yang punya niat yang sama pun keluar dan terkejut. Tapi akhirnya kami putuskan malam ini mengenakan jilbab. Ah... Jilbab pertamaku. Jilbab coklat. Ibuku pun tak kuberi kabar tentang kabar gembira ini. Biarlah. Nanti saja.
            Keesokan harinya, Aku keluar dengan seragam putih abu-abu lengan panjang dibalut jilbab putih. Hmm.... Masih terbersit rasa tak percaya seorang wanita bernama Adek Rahayu mengenakan jilbab. Tiga hari kemudian, kukabarkan hal ini kepada ibu. Ternyata ibuku turut bahagia. Alhamdulillah. Ibu mengerti walau pada awalnya tak menyetujui.
            Ujian pertama..
            Aku memilih ektrakurikuler Paskibra. Sejak SMP pun aku menyukai ekstrakurikuler ini. Dan sempat menjabat sebagai ketua. Dan tak kusangka juga, aku terpilih menjadi anggota Paskibra Kecamatan setelah di tes baris-berbaris. Tentu saja aku sangat senang. Walaupun tak terpilih menjadi Paskibra Kabupaten, Propinsi, atau Nasional, tapi aku sudah cukup senang dengan prestasi ini. Latihan pun digelar setiap sore demi hasil yang optimal. Dengan suka cita aku ikuti latihan ini. Karena dalam bayanganku, aku akan memakai baju putih, rok putih, hiasan yang ada leher seperti syal berwarna merah yang aku sendiri baru tahu kini namanya sekrap, dan peci hitam yang disematkan pin lambang bendera merah putih. pada tanggal 17 Agustus nanti. . Hmmm... Keren sekali.
            Hingga suatu hari bayangan itu memudar bahkan hilang sama sekali. Aku yang saat terpilih belum menggunakan jilbab, dan beberapa minggu setelah itu mengenakan jilbab harus menerima sesuatu yang tak mau kuterima.
            “Adek, maaf ya sebelumnya. Kamu gak apa-apa kan jika digantikan. Soalnya baju seragam yang ada hanya untuk yang tidak mengenakan jilbab,” kata kakak senior suatu hari.
            Bagai jatuh dari gedung lantai 14 saat itu. Sedih. Sedih sekali. Dan aku pun tak bisa berbicara apa-apa selain, “Iya kak... Gak apa-apa..,” kataku lunglai.
            Ingin rasanya aku marah. Sempat berpikir, kenapa ya aku berjilbab sekarang. Coba nanti saja setelah hari Kemerdekaan. Ya Allah... Apa yang kupikirkan ini. Astaghfirullah.. Ayo Adek. Semangat! Semangat! Semangat!. Dunia belum berakhir hanya dengan tidak terpilih menjadi Paskibra Kecamatan. Masih banyak jalan lain untuk mencetak prestasi. Positive thinking to Allah.
            Allah itu Maha Adil. Berprasangka baik saja kepada Allah. “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Alhamdulillah, aku berhasil meraih prestasi lain pada Bulan Bahasa di bulan Oktober 2006. Ku rasa inilah jawabannya dari kesedihanku sebelumnya. Allah benar-benar Maha Adil. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Sekarang Aku yakin bahwa jilbab itu bukan suatu penghalang untuk mencetak prestasi. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan sekalipun.
            Saat itu jilbabku masih jilbab gaul. Belum syar’i. Aku mengenakan jilbab karena Aku merasa ‘terkurung’ di dalam asrama. Pikirku sekalian saja pakai jilbab. Hingga suatu hari di asrama ada kegiatan seperti mentoring setiap satu minggu sekali. Dan Alhamdulillah aku tergerak untuk mengikutinya. Dari perkumpulan itulah aku tahu bahwa jilbab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah yang telah baligh. Aku juga baru tahu kalau mengenakan jilbab itu harus diulurkan sampai ke dada seperti yang tertuang dalam surah An-Nur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Tidak transparan, tidak ketat. Dari saat itu, aku mulai meluruskan niatku mengenakan jilbab. Tapi aku belum bisa menggunakan jilbab secara syar’i.
            Alhamdulillah.. Hidayah itu terus datang. Memang saat itu aku belum siap menggunakan jilbab syar’i hingga suatu hari aku mengikuti studi wisata Karya Ilmiah Remaja (KIR) saat duduk di kelas 2 SMA. Kegiatan ini diadakan oleh Fiesta, salah satu organisasi pemuda Islam yang isinya mbak-mbak jilbaber. Sehari sebelum mengikuti kegiatan itu, aku kebingungan sendiri. Mau pakai baju apa ya? Pakai rok atau celana? Pakai celana sajalah. Besok kan jalan-jalannya ke kebun-kebun. Tapiiii.... Besok banyak mbak-mbak jilbaber yang jilbabnya panjang-panjang. Hmmm.... Kan malu. Gimana ya. Tanyaku dalam hati. Semalaman aku menimbang-nimbang. Pakaianku harus bagaimana??? Hingga terlelap aku memikirkannya.
            Keesokan harinya teman-temanku banyak yang heran dengan penampilanku. Aku menggunakan rok dengan jilbab yang kupanjangkan dari biasanya.  Jelas heran, karena kami akan studi wisata ke perkebunan. Aku hanya bisa nyengir. Akhirnya, kami pun berangkat menggunakan bus. Mengunjungi perkebunan sagu, perkebunan sawi, ke tambak ikan, dan pembuatan keripik telor cumi. Tak tahu kenapa sepanjang perjalanan aku merasa nyaman dengan pakaianku sekarang. Nyaman sekali. Hingga aku tak mau lagi mengubah cara pakaianku lagi seperti sebelumnya. Benar. Malu itu sebagian dari iman. Malu dilihat oleh mbak-mbak jilbaber. Dan lama-lama kuluruskan, malu juga dilihat oleh Allah SWT.
            Jilbabku berawal dari malu. Jilbab ini yang menuntunku ke arah lebih baik. I love you, my hijab.

Sungailiat, 22 Februari 2013