Kamis, 07 Maret 2013
Jilbab, I Love You
Ini cerita singkatku bagaimana aku akhirnya mengenakan jilbab...
Jilbab. Suatu hal yang sangat mustahil bagiku saat itu untukku yang masih SMP. Bagaimana tidak? Keseharianku yang selalu mengenakan pakaian ketat. Menari dari tradisonal hingga modern dance dan modelling adalah kegiatan yang tak bisa lepas dariku saat itu. Hingga kupikir, inilah duniaku.
Hingga saat menjelang kelulusan SMP, namaku tertera dikoran berada dideretan penerima beasiswa dari PT Timah Tbk di SMA 1 Pemali yang mengharuskan penerimanya tinggal di asrama setelah melewati serangkaian tes. Aku dengan segala kegiatan kesenianku rasanya tidak mudah untuk memilih ini. Jika aku terima, aku harus merelakan kegiatanku. Jika tidak ya tidak apa-apa. Aku mengikuti inipun berawal dari ikut-ikutan teman.
Allah Maha Pemberi Petunjuk. Aku yang awalnya memilih tidak, menjadi memilih iya. Ibuku juga berat sekali melepaskan aku untuk tinggal di asrama. Allah Maha membolak-balikkan hati. Bismillah. Semoga ini yang terbaik.
Benar saja. Asrama inilah yang membuatku mempunyai keinginan yang kuat untuk berjilbab. Sekalipun niat awalku belum benar. Berawal dari malu. Saat itu kami yang dinyatakan lulus harus mendaftar ulang ke asrama. Aku yang rok SMP-nya agak ketat, langsung saja ditegur oleh panitia PSB (Penerimaan Siswa Baru) yang kutahu kini dia adalah pengawas asrama. “Nanti ganti ya roknya”. Mendengar itu wajahku memerah, malu sekali rasanya ketika ditegur seperti itu. Langsung saja ketika pulang kerumah, aku langsung membongkar lemariku mencari rok yang lebih baik dari rok yang kugunakan sebelumnya. Pengawas tadi bilang juga bahwa hampir 70% siswa perempuan yang muslim di sini mengenakan jilbab. Tuk. Sepertinya ada yang mengetuk pintu hatiku. Tapi ah sudahlah. Beberapa minggu ketika masuk sekolah, kami memang masih menggunakan pakaian SMP sembari menunggu baju seragam SMA dari PT Timah. Saat MOS pun kami diharuskan menggunakan seragam SMP.
Sepulang dari pendaftaran ulang, kata-kata panitia PSB itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku akan masuk asrama. Pulangnya 2 minggu sekali. Tempatnya juga sepi. Kurang bebas juga untuk keluar. Gimana ya kalau Aku mengenakan jilbab??? Pakai jilbab aja deh. Lagipula, di asrama ini gak mungkin lagi aku nari-nari, nyanyi-nyanyi, ikut model. Ya udah deh. Jilbabin aja. Batinku.
Keinginan itu pun aku utarakan ke orangtuaku. Ayah sih tidak banyak komentar. Tapi ibu kurang mengizinkan. Katanya Aku masih kecil. Nanti jilbabnya dibuka lagi. Dan lain-lain yang membuatku ragu. Tapi tak kusangka, ketika Aku sudah beberapa hari di asrama, ibuku membeliku 3 buah jilbab. Dua jilbab berwarna putih dan 1 berwarna coklat. Kata ibu, untuk digunakan hari Jumat. Ya, saat itu di sekolah kami setiap hari Jumat diharuskan menggunakan busana muslim.
Masih saja ragu itu menyelimuti hatiku. Hingga saat Aku harus memilih, pilih seragam sekolah lengan panjang atau lengan pendek. Bingung sekali. Aku rasanya belum siap mengenakan jilbab. Tapi..... Ah...Nekat saja.
01 Agustus 2006.
Baju seragam sudah ditangan. Lengan panjang. Artinya Aku harus mengenakan jilbab. Minggu depan saja. Pikirku. Saat itu ada 5 temanku yang berniat mengenakan jilbab juga. Dan kami pun pernah berencana untuk mengenakan pada hari yang sama. Menjelang waktu makan malam pada tanggal 01 Agustus 2006, Aku dikejutkan dengan salah seorang temanku yang mengenakan baju kemeja panjang, celana panjang, dan juga jilbab. Jilbab??? Serius malam ini. Aku belum siap.Teman-temanku yang punya niat yang sama pun keluar dan terkejut. Tapi akhirnya kami putuskan malam ini mengenakan jilbab. Ah... Jilbab pertamaku. Jilbab coklat. Ibuku pun tak kuberi kabar tentang kabar gembira ini. Biarlah. Nanti saja.
Keesokan harinya, Aku keluar dengan seragam putih abu-abu lengan panjang dibalut jilbab putih. Hmm.... Masih terbersit rasa tak percaya seorang wanita bernama Adek Rahayu mengenakan jilbab. Tiga hari kemudian, kukabarkan hal ini kepada ibu. Ternyata ibuku turut bahagia. Alhamdulillah. Ibu mengerti walau pada awalnya tak menyetujui.
Ujian pertama..
Aku memilih ektrakurikuler Paskibra. Sejak SMP pun aku menyukai ekstrakurikuler ini. Dan sempat menjabat sebagai ketua. Dan tak kusangka juga, aku terpilih menjadi anggota Paskibra Kecamatan setelah di tes baris-berbaris. Tentu saja aku sangat senang. Walaupun tak terpilih menjadi Paskibra Kabupaten, Propinsi, atau Nasional, tapi aku sudah cukup senang dengan prestasi ini. Latihan pun digelar setiap sore demi hasil yang optimal. Dengan suka cita aku ikuti latihan ini. Karena dalam bayanganku, aku akan memakai baju putih, rok putih, hiasan yang ada leher seperti syal berwarna merah yang aku sendiri baru tahu kini namanya sekrap, dan peci hitam yang disematkan pin lambang bendera merah putih. pada tanggal 17 Agustus nanti. . Hmmm... Keren sekali.
Hingga suatu hari bayangan itu memudar bahkan hilang sama sekali. Aku yang saat terpilih belum menggunakan jilbab, dan beberapa minggu setelah itu mengenakan jilbab harus menerima sesuatu yang tak mau kuterima.
“Adek, maaf ya sebelumnya. Kamu gak apa-apa kan jika digantikan. Soalnya baju seragam yang ada hanya untuk yang tidak mengenakan jilbab,” kata kakak senior suatu hari.
Bagai jatuh dari gedung lantai 14 saat itu. Sedih. Sedih sekali. Dan aku pun tak bisa berbicara apa-apa selain, “Iya kak... Gak apa-apa..,” kataku lunglai.
Ingin rasanya aku marah. Sempat berpikir, kenapa ya aku berjilbab sekarang. Coba nanti saja setelah hari Kemerdekaan. Ya Allah... Apa yang kupikirkan ini. Astaghfirullah.. Ayo Adek. Semangat! Semangat! Semangat!. Dunia belum berakhir hanya dengan tidak terpilih menjadi Paskibra Kecamatan. Masih banyak jalan lain untuk mencetak prestasi. Positive thinking to Allah.
Allah itu Maha Adil. Berprasangka baik saja kepada Allah. “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Alhamdulillah, aku berhasil meraih prestasi lain pada Bulan Bahasa di bulan Oktober 2006. Ku rasa inilah jawabannya dari kesedihanku sebelumnya. Allah benar-benar Maha Adil. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Sekarang Aku yakin bahwa jilbab itu bukan suatu penghalang untuk mencetak prestasi. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan sekalipun.
Saat itu jilbabku masih jilbab gaul. Belum syar’i. Aku mengenakan jilbab karena Aku merasa ‘terkurung’ di dalam asrama. Pikirku sekalian saja pakai jilbab. Hingga suatu hari di asrama ada kegiatan seperti mentoring setiap satu minggu sekali. Dan Alhamdulillah aku tergerak untuk mengikutinya. Dari perkumpulan itulah aku tahu bahwa jilbab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah yang telah baligh. Aku juga baru tahu kalau mengenakan jilbab itu harus diulurkan sampai ke dada seperti yang tertuang dalam surah An-Nur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Tidak transparan, tidak ketat. Dari saat itu, aku mulai meluruskan niatku mengenakan jilbab. Tapi aku belum bisa menggunakan jilbab secara syar’i.
Alhamdulillah.. Hidayah itu terus datang. Memang saat itu aku belum siap menggunakan jilbab syar’i hingga suatu hari aku mengikuti studi wisata Karya Ilmiah Remaja (KIR) saat duduk di kelas 2 SMA. Kegiatan ini diadakan oleh Fiesta, salah satu organisasi pemuda Islam yang isinya mbak-mbak jilbaber. Sehari sebelum mengikuti kegiatan itu, aku kebingungan sendiri. Mau pakai baju apa ya? Pakai rok atau celana? Pakai celana sajalah. Besok kan jalan-jalannya ke kebun-kebun. Tapiiii.... Besok banyak mbak-mbak jilbaber yang jilbabnya panjang-panjang. Hmmm.... Kan malu. Gimana ya. Tanyaku dalam hati. Semalaman aku menimbang-nimbang. Pakaianku harus bagaimana??? Hingga terlelap aku memikirkannya.
Keesokan harinya teman-temanku banyak yang heran dengan penampilanku. Aku menggunakan rok dengan jilbab yang kupanjangkan dari biasanya. Jelas heran, karena kami akan studi wisata ke perkebunan. Aku hanya bisa nyengir. Akhirnya, kami pun berangkat menggunakan bus. Mengunjungi perkebunan sagu, perkebunan sawi, ke tambak ikan, dan pembuatan keripik telor cumi. Tak tahu kenapa sepanjang perjalanan aku merasa nyaman dengan pakaianku sekarang. Nyaman sekali. Hingga aku tak mau lagi mengubah cara pakaianku lagi seperti sebelumnya. Benar. Malu itu sebagian dari iman. Malu dilihat oleh mbak-mbak jilbaber. Dan lama-lama kuluruskan, malu juga dilihat oleh Allah SWT.
Jilbabku berawal dari malu. Jilbab ini yang menuntunku ke arah lebih baik. I love you, my hijab.
Sungailiat, 22 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
